Iim melina

BAB IV

HIPOTESIS

A. Pengertian Hipotesis

Setelah peneliti mengadakan penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber untuk menentukan anggapan dasar, maka langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Seperti yang sudah kita ketahui ketika melakukan penelitian kita bertujuan untuk mengetahuisesuatu yang pada tingkat tertentu dipercaya sebagai sesuatu yang benar. Ia bertitik tolak pada pertanyaan yang disusun dalam bentuk masalah penelitian. Dan untuk menjawab pertanyaan itu disususn suatu jawaban sementara yang kemudian dibuktikan melalui penelitian empiris, tetapi pernyataan itu masih bersifat dugaaan dan pada tahap ini kita mengumoulkan data untukmenguji hipotesis kita.

Agar dapat mudah dipahami pengertian ini, perlu dikutipkan pendapat Prof. Suttisno Hadi MA. Tentang pemecahan masalah. Seringkali peneliti tidak dapat memecahkan Drs permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mencari jawaban melalui penelitian yang dilakukan.

Jawaban terhadap permasalahan itu dibedakan atas dua hal sesuai dengan tarap pencapainnya yaitu :

  1. Jawaban permasalahn yang berupa kebenaran pada tarap teoritik, dicapai melalui membaca.
  2. Jawaban permasalahan yang berupa kebenaran pada tarap praktek. Dicapai setelah penelitian selesai, yaitu setelah pengolahan terhadap data.
  3. Sehubungan dengan pembatasan pengertian diatas maka hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

Hipotesis (hypo = sebelim; yhesisi = pernyataan, pendapat) adalah suatu pernyataan yang pada waktu diungkaokan belum diketahui kebenarannya, tetapi memungkinkan untuk diuji dalam kenyataan empiris. Hipotesis memungkinkan untuk menghubungkan teori dengan pengamatan, atau pengamatan dengan teori. Hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan –hubungan antara variable-variabel didalam persoalan. Dengan dmikian hipotesis ini memberikan arah pada penelitian yang harus dilakuakn oleh peneliti.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Hiotesis itu adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya

Dalam metode hipotetik-deduktif, hipotesis sebaiknya falsifabel, berarti bahwa mungkin bahwa itu bisa diperlihatkan bahwa itu adalah salah, biasanya oleh pengamatan.

Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap problema. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan/ menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.

Contoh :

  1. Apabila terlihat awan hitam dan langit menjadi pekat, maka seseorang dapat saja menyimpulkan (menduga-duga) berdasarkan pengalamannya bahwa (karena langit mendung, maka..) sebentar lagi hujan akan turun. Apabila ternyata beberapa saat kemudia hujan benar turun, maka dugaan terbukti benar. Secara ilmiah, dugaan ini disebut hipotesis. Namun apabila ternyata tidak turun hujan, maka hipotesisnya dinyatakan keliru.( Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008. Hal.10)

Hipotesis merupakan kebenaran sementara yang perlu diuji kebenarannya oleh karena itu hipotesis berfungsi sebagai kemungkinan untuk menguji kebenaran suatu teori.

Jika hipotesis sudah diuji dan dibuktikan kebenaranya, maka hipotesis tersebut menjadi suatu teori. Jadi sebuah hipotesis diturunkan dari suatu teori yang sudah ada, kemudian diuji kebenarannya dan pada akhirnya memunculkan teori baru

Fungsi hipotesis menurut Menurut Nasution ialah sbb:

§ Untuk menguji kebenaran suatu teori,

§ Memberikan gagasan baru untuk mengembangkan suatu teori dan

§ Memperluas pengetahuan peneliti mengenai suatu gejala yang sedang dipelajari

Fungsi hipotesisi yang seperti ini menurut Ary Donald adalah

1. Memberikan penjelasan tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.

2. Mengemukakan pernyataan tentang hubungan dua konsep yang secara langsungdapat diuji dalam peneltian.

3. Memberikan arah pada penelitian

4. Memberi kerangka pada penyusunan penelitian.

Supaya fungsi itu dapat berjalan secara efektif, naka ada faktor-faktor yang harus diperhatikan pada penyusunan hipotesis,

1. Hipotesis disusun dalam kalimay deklaratif yaitu kalimat tersebut bersifat positif dan tidak normative

2. Variabel yang dinyatakan dalam hipotesis adalah variable yang operasional, dalam arti dapat diamati dan diukur

3. Hipotesis menunjukan hubungan antara variable-variabel.

B. Menyusun Hipotesis

Hipotesis adalah pernyataan tentative yang merupakan dugaan mengenai apa saja yang sedang kita amati dalam usaha untuk memahaminya Asal dan Fungsi Hipotesis.

Hipoptesis dapat diturunkan dari teori yang berkaitan dengan masalah yang akan kita teliti. Jadi, Hipotesis tidak jatuh dari langit secara tiba-tiba.

Misalnya seorang peneliti akan melakukan penelitian mengenai harga suatu produk maka agar dapat menurunkan hipotesis yang baik, sebaiknya yang bersangkutan membaca teori mengenai penentuan harga.

Hipotesis dapat disusun dengan dua pendektan, yaitu secara deduktif, yaitu dengan ditarik dari teori. Suatu teori terdidi dari proposisi-proposisi, sedangkan proposisi menunjukan hubungan antara dua konsep. Proposisi ini merupakan postulat-postulat yang dari padanya disusun hipotesis.dan yang kedua secara induktif yang bertolak dari pengamatan empiris.

Pada model Walaace tentang proses penelitian ilmiah telah dijelaskan enjabarab tantabg hipotesis dari teori denagn metode deduksi logis. Teori terdiri dari seperangkat proposisi, sedangkan proposisis menunjukan hubungan diantara dua konsep. Bertitik tolak dari proposisi itu diturunkan hipotesisi secara deduksi. Konsep-konsep yang berada dalam proposisi diturunkan dalam pengamatan menjadi variable-variabel sebagaimana ditunjukan pada skema dibawah ini

Hipotesis dapat juga disusun secara induktif. Drai pengalaman kita dimasa lampau kita bisa menyusun hipotesis, yang ada hubungan positif diantara hipotesis yang kita ajukan.

Sehubungan dengan penyusunan hipotesis ini , Deobald B. Van Dallen mengemukakan postulat-postulat yang diturunkan daru dua jenis asumsi, yaitu postulat yang disusun berdasarkan asumsi dari alam, dan postulat yang berdasarkan asumsi proses psikologis. Postulat yang bersumber dari kenyataan-kenyataan alam adalah :

1. Postulat jenis ( natural kinds)

Ada kemiripan diantara objek-objek individual tertentu yang memungkinkan mereka untuk dikelompokan kedalam satu kelas tertentu. Dengan postulat ini kita dapat menyusun hipotesis terhadap objek pengamatan tertentu, apakah ia termasuk kelompok x atau kelompok y

2. Postulat Keajekan (constansi)

Dialam ini ada hal-hal yang menurut pengamatan kita selalu berulang dengan pola yang sama. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman ini kita mempunyai alas an untuk menduga hal yang sama.

  1. Postulat Determinisme

Ada postulat sebab akibat yang menyatakan bahwa suatu peristiwa terjadi karena sesuatu atau beberapa sebab. Postulat ini dipakai untuk menyusun suatu hipotesis untuk menersngksn peristiwa tertentu.

C. Kerangka Hipotesis

Jumlah Variabel yang tercakup dalam suatu hipotesis dan bentuk hubungan diantaravariabel-variabel itu sangat menentukan dalam menentukan alat uji hipotesis. Hipotesisi yang hanya terdiri dari atas satu variable akan diuji dengan Univariate Analysis, contohnya sebagai berikut :

  1. persepsi remaja terhadap kepemimpinan yang demokratis cukup tinggi. (Variabel Ordinal)
  2. Prestasi studi mahasiswa ditahun pertama cukup rendah. (variable interval)

Ada juga hipotesis yang mencakup dua variable, yang akan diuji melalui bivariate analysis. Contoh :

  1. Ada hubungan yang signifikan antara persepsiterhadap kepemimpinan dengan pola asuhdalam keluarga dikalangan remaja. (variable nominal)
  2. Ada hubungan positif antara motivasi belajar dengan prestasi studi dikalangan mahasiswa. (Variabel satu diukur debgan skala interval, variable dua diukur dengan skala nordinal).

Salah satu variable pada hipotesis dengan bivariate analisis itu berfungsi sebagai variable yang dijelaskan atau variable tidak bebas, dan yang satunya berfungsi sebagai variable yang menerangkan atau variable bebas.. Misalkan variable y dapat diterangakn oleh variable x1, tetapijuga dapat diterangkan oleh x2 terlepas dari x1 dan dapat juga dijelaskanoleh variable x3 terlepas dari x1 dan x2, ketiga variable bebas yang menerangkan variable tidak bebas itu terdiri atas 3 hipotesis, yaitu :

Hipotesis 1 : ada hubungan antara x1 dan y

Hipotesis 2 : Ada hubungan antara x2 dan y

Hipotesis 3 : Ada hubungan antara x3 dan y

D. Jenis Hipotesis

Pada umumnya hipotesis dirumuskan untuk menggambarkan hubungan dua variable akibat. Namun demikian, ada hipotesis yang menggambarkan perbandingan satu variable dari dua sample.

Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian

  1. Hipotesis Kerja, atau disebut denagn hipotesis alyernatif, disingkat Ha. Hipotesis keraj menyatakan adanya hubunagn antara variable X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok

Rumusan hipotesis kerja :

a. Jika………..maka…………..

Contoh :jika orang banyak makan, maka berat badannya naik

b. Ada perbedan antara…………..dan……….

Contoh : Ada perbedaan antara penduduk kota dan penduduk desa dalam cara berpakaian.

c. Ada pengaruh ………….terhadap………….

Contoh: Ada pengaruh makanan terhadap berat badan

  1. Hipotesis Nol (null hypotesis) disingkat ho

Sering disebut juga hipotesis statistic, karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistic, yaitu diuji dengan perhitungan statistic. Hipotesis nol menyatakan perbedaan antara dua variable, atau tidak adnya pengaruh variable x terhadap variable y.

Rumusan hipotesis nol:

a. Tidak ada perbedaan antara………….dengan……………

b. Tidak ada pengaruh ………………….terhdap………..

E. Model Relasi

Hubungan Variabel-variabel pada hipotesis mempunyai model yang berbeda-beda. Pengertian hubungan disini tidak sama dengan pengertian hubungan dalam pembicaraan sehari-hari. Hubungan disini diartikan sebagi relasi, yaitu himpunan dengan elemen yang terdiri dari pasang urut. Himpunan yang demikian dibentuk dari himpunan yang berbeda. dapat digolongakn dalam tiga model, yaitu:

1. Model Kontingensi

Hubungan dengan model kontingensi dinyatakan dalam bentuk table silang

2. Model Asosiatif

Model ini terdapat diantara dua variable yang sama-sam ordinal, atau sama-sama nterval, atau sama-sama ratio, atau salah satu ordinal atau interval. Varibel-variabel itu mempunyai pola monoton linier, Artinya, perubahan datri variable yang bersangkutan bergerak naik terus tanpa turun kembali, atu sebaliknya turun terus tanpa naik kembali.

Disebut juga hubungan korelasi dan hubungan ini bukanlah hubungan ebab akibat, tetapi hanya menunjukan bahwa jeduanya sama-sama berubah.

3. Hubungan fungsional

Hubungan fungsional adalah hubunagn antara satu variable yang berfungsi dalam variable lain. Berbeda denagn hubungan asosiatif dimana kedua variable berdampingan satu dengan yang lain, pada hubungan fungsional variable .

F. Kekeliruan yang Terjadi Dalam Hipotesis

Dua jenis kekeliruan yang kadang dibuat oleh peneliti, yaitu:

l Menolak Hipotesis yang seharusnya diterima. Kesalahan ini disebut sebagai kesalahan alpha (a). Menerima Hipotesis yang seharusnya ditolak. Kesalahan ini disebut sebagai kesalahan beta (b)

Persisnya!

l Jika Rumusan masalah anda “adakah hubungan jam produksi terhadap volume produksi”

l Maka Hipotesis penelitian anda seharusnya “ada hubungan jam produksi terhadap volume produksi”

l Maka Hipotesis Operasional anda

Ho: “tidak ada hubungan jam produksi terhadap volume produksi”

H1: “ada hubungan jam produksi terhadap volume produksi”

l Jika setelah dilakukan pengujian, ternyata

Ho ditolak, artinya penelitian terbukti secara nyata (empiris)

Ho diterima, artinya penelitian anda tidak nyata secara empiris

Perumusan hipotesis dilakukan secara hati-hati setelah peneliti memperoleh bahan yang lengkap berdasarkan teori yang kuat. Namun demikian rumusan hipotesis tidak selamanya benar.

Benar dan tidaknya hipoesis tidak ada hubungannya dengan terbukti ayau tidaknya hipotesis tersebut. Mungkin seorang peneliti merumuskan hipotresis yang benar, tetapi setelah data terkumpul dan dianalisis. Ternyata hipotesis itu ditolak, atau tidak terbukti. Sebaliknya mungkin seorang peneliti merumuskan sebuah hipitesis ynag salah , tetapi setelah dicocokan dengan datanya, hipotesis yang salah tersebut terbukti. Keadaan ini akan berbahaya, apabila mennganaihipotesis yang berbahaya.

G. Cara Merumuskan Hipotesis

l Cara merumuskan Hipotesis ialah dengan tahapan sebagai berikut: rumuskan Hipotesis penelitian, Hipotesis operasional, dan Hipotesis statistik.

Hipotesis penelitian

l Hipotesis penelitian ialah Hipotesis yang kita buat dan dinyatakan dalam bentuk kalimat.

Contoh:

Ada hubungan antara gaya kepempininan dengan kinerja pegawai

Ada hubungan antara promosi dan volume penjualan

Hipotesis operasional (1)

l Hipotesis operasional ialah mendefinisikan Hipotesis secara operasional variable-variabel yang ada didalamnya agar dapat dioperasionalisasikan.

l Misalnya “gaya kepemimpinan” dioperasionalisasikan sebagai cara memberikan instruksi terhadap bawahan.

l Kinerja pegawai dioperasionalisasikan sebagai tinggi rendahnya pemasukan perusahaan.

Hipotesis operasional (2)

l Hipotesis operasional dijadikan menjadi dua, yaitu Hipotesis 0 yang bersifat netral dan Hipotesis 1 yang bersifat tidak netral Maka bunyi Hipotesisnya:

l H0: Tidak ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan

l H1: Ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan.

Hipotesis statistik

l Hipotesis statistik ialah Hipotesis operasional yang diterjemahkan kedalam bentuk angka-angka statistik sesuai dengan alat ukur yang dipilih oleh peneliti.

l Dalam contoh ini asumsi kenaikan pemasukan sebesar 30%, maka Hipotesisnya berbunyi sebagai berikut:

H0: P = 0,3

H1: P m0,3

H. Uji Hipotesis

· Hipotesis yang sudah dirumuskan kemudian harus diuji.

· Pengujian ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan diterima.

· Jika H1 diterima maka H0 ditolak, artinya ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan.

BAB III
KONSEPTUALISASI MASALAH

A.Perumusan Masalah
Telah kita ketahui bahwa suatu konsep serada dalam bidang logika teoritis), sedangkan gejala berada dalam dunia empiris (faktual). Konsaep dersifat abstrak dan dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal yang khusus.memberikan konsep pada gejala itulah disebut konseptualisasi.
Konseptualisasi adalah proses pembentukan konsep dengan dertitik tolak pada gejala-gejala pengamatan. Proses ini berjalan secara induktif, dengan mengamati sejumlah gejala secara individual, kemudian merumuskannya dalam bentuk konsep. Konsep dersifat abstrak, sedangkan gejala bersifat konkret.
Seorang ahli bernama Babbie mengatakan konsep sebagai berikut :
“The process through hich we specify precisely what e man hen e use particukar terms” (proses dengan bagaimana kita memberi nama yang khusus secara tepat menggambarkan apa yang kita maksudkan).
Konseptualisasi diawali dengan mengungkapkan permasalahan penelitian , latar belakangnya, perumusannya, dan signifikansinya. Masalah yang jadi bahan penelitian itu merupakan kesenjangan yang ada diantara kenyataan dan harapan perlu dirumuskan secara eksplisit. Masalah tersebut dapat ditangkap dari keluhan-keluhan yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan, Gejala-gejala masalah ini diungkapkan secara jelas, untuk kemudian konsepnya dirumuskan secara operasional. Dan akhirnya masalah itu perlu diteliti secara akademis dan dari segi praktis, dari segi akademis, suatu penelitian bisa mengukuhkan teori yang ada, sedangkan dari segi praktis berhubungan dengan pentingnya penelitian itu dalam pengenbangan program atau pekerjaan tertentu.
Konseptualisasi masalah tidak hanya merumuskan masalah, tetapi juga mengungkapkan cara-cara tentang bagaimana masalah tersebut akan diteliti. Dengan demikian terdapat dua masalah pokok yang akan dijelaskan dalam konseptualisasi penelitian, yaitu penjelsan tentang substansi yang diteliti, dan penjelasan tentang khusus dalam perencanaan penelitian.
seperti yang kita ketahui peristiwia bisa disebut sebagai masalah apabila terdapat kesenjangan antara apa yang ada dengan apa yang diharapkan. Suatu masalah dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek empiris dan aspek logis atau rasional. Dilihat dari apa yang diharapkan itu masalah dapat dikelonpokan kedalam 3 kategori, yaitu:

Masalah Filosofis
Suatu masalah dikatakan filosofis jika gejala-gejala empirisnya tidak sesuai dengan pandangan hidup yang ada dalam masyarakat. Bisa kita ambil contoh yaitu gejala-gejala seks sebelum nikah dikalangan remaja termasuk dalam kategori ini, karena nilai-nilai yang berlaku dikalangan remaja itu tidak sesuai dengan norma-norma keagamaan yang dianut oleh masyrakat.
Masalah Kebijakan
Masalah yang tergolong dalam masalah kebijakan adalah prilaku-prilaku atau kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sipembuat kebijakan, kualitas pendidikan yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan, adalah contoh-contoh yang termasuk dalam kategori ini.
Masalah Ilmiah
Masalah yang tergolong dalam masalah ilmiah adalah kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan teori ilmu pengetahuan. Salah satu teori dalam pendidikan yang dikenal dengan teori hukuman mengatakan bahwa hukuman yang diberikan pada anak akan mengubah prilakunya kearah positif, Tetapi dalam kenyataannya, anak-anak diberi hukuman justru semakin mengarah pada hal-hal yang negatif.
Masalah sosial menampakan diri pada conflict issue yang dapat ditangkap dari peristiwa-peristiwa yang ada dalam masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan membantu kita mengetahui pokok permasalahan tersebut. Issue-issue tersebut dapat ditangkap melalui pengamatan langsung, atau dari surat kabar, media masa lainnya. Bertitik tolak dari isue tersebut kita bisa merumuskan masalah yang menjadi pokok permasalahan kita. Dari seperangkat proposisi yang ada dalam teori tersebut kita memilih yang sesuai dengan issue dan cukup menarik minat itu.
Untuk merumuskan permasalahan dengan cara seperti itu , perlu diperhatikan dua pertanyaan pokok yang membentu memperjelas masalah. Yang pertama pertanyaan mengapa masalah itu penting, untuk pertanyaan ini dijawab dengan mengungkap latar belakang masalahnya. Sumber-simber bacaam yang relevan bisa membantu kita menjelaskan latar belakangnya
Pertanyaan yang kedua adalah apa masalahnya. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diadakan penjajakan disekitar lokasi penelitian, dan kita mengungkapkan gejala-gejala khusus dari setiap individu yang bermsalah. Dengan metode induksi akhirnya kita merumuskan konsep yang merupakan penelitian kita.

B.Variabel
Sebelumnya telah kita sebutkan bahwa konsep itu bersifat abstrak, tetapi menunjuk pada objek-objek yang konkret, Objek yang konkret itu bersifat individual, yang berbeda satu dengan yang lain dan proses pemberian konsep pada gejhala-gejala yang dipermasalahkan itu disebut Konseptualisasi. Sifat dari objek-objek itu adalah

Mempunyai cirti yang sama, yang membuat mereka mirip antara yang satu dengan yang lain, sehingga semuanya dapat ditampung dalam satu definisi
Setiap objek berbeda, masing-masing mempunyai ciri tersendiri yang membedakannya dengan objek yang lain, perbedaan-perbedaan itu yang membuat objek-objek itu bervariasi, karena itu disebut variabel
Perbedaan-perbedaan pada setiap objek terletak pada ukuran masing-masing, baik ukuran yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Karena ukuran yang berbeda-beda itulah maka konsep itu disebut sebagai variabel.
Suatu konsep disebut variabel jika ia menampakan variasi pada objek-objek yang ditunjuknya. Jadi konsep bukan variabel jika tidak tampak variasi pada objek-objek itu.
Diantara konsep konsep yang abstrak dan objek yang individual yang konkret terdapat suatu penghubung yang menunjukan objek-objek yang dapat dimasukan kedalam konsep sebagai indikator empiris. Indikator empiris ini sifatnay dapat diamati. Suatu indikator empiris nelum tentu dapat menunjukan seluruh makan yang terkandung dalam konsep tertentu.
Demgan indikator empirid itu kita merumuskan variabel secara operasional. Definisi operasional dirumuskan sedemikian rupa sehungga ia berfungsi sebagi petunjuk untuk menemuka data yang tepat dalan dunia empiris
Definisi operasional suatu variabel tidak boleh dirunuskan dalan bentuk sinonim. Kalau definisi variabel kerajinan belajar dirunuskan ketekunan sisa dalam mempelajari bahan pelajaran, maka disisni terdapat istilah yang setara, yaitu kerajinan dan ketekunan, karena itu seharusnya ketekunan itu bukab kinep tetapi indikator, namun dalam definisi ini ketekunan adalah konsep, sama dengan kerajinan.
definisi operasional terhadap variabel atau konsep ini berbeda dengan definisi yang yang kita temukan dalam buku teks atau kamus . definisi dalam buku teks atau kamus itu disebut definisi konstetutif atau definisi nominal.
Variabel Dependent dan Variabel Independent
Variabel dependen disebut juga variabel tidak bebas jika nilai atau harganya ditentukan oleh satu atau beberapa variabel lain. Dalam hubungan ini variabel lain itu disebut variabel independen atau variabel bebas. Sebagai contoh, hubungan antara permintaan dan harga dalam hukum permintaan berbunyi : Jika harga suatu barang naik (atau turun), maka permintaan terhadap barang itu akan turun (atau naik).
Variabel kontinu dan Variabel Deskrit
Kedua jenis variabel ini berbeda dalan cara pengukurannya. Variabel kontinu dapat diukur dengan bilangan kontinu, seperti variabel berat, panjang, dan umur. Sedangkan variabel deskrit diukur dengan bilangan deskrit, seperti junlah orang yang dapat diukur dengan bilangan bulat.

C.Skala Pengukuran
Sifat dari indikator enpiris adalah dapat diukur dengan akala tertentu. Pengukuran itu paling sedikit untuk membedakan yang satu dengan yang lain. Untuk melakukan tugas pengukuran dibutuhkan alat, dan pada alat itu terdapat skala yang dapat diterapkan pada setiap objek yang akan diukur. Alat ukur yang dipakai haruslah konsisten sehingga hasilnya dapat dipercaya
Dengan syarat-syarat seperti inikah maka pengukuran adalah suatu proses pemberian angka pada setiap objek dalam skala tertentu. Mengukur suatu variabel dapat dilakukan pada salah datu dari 4 skala pengukuran, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala ratio.
Skala Nominal
Skala nominal ini dapat diterapkan pada setiap variabel karena skala ini berfungsi untuk membedakan. Setiap objek yang diukur adalah setatar, namun berbeda satu dengan yang lain. Tolak ukur yang dipakai untuk mengukurnya adalah indikator empiris dari variabel yang bersangkutan, variabel ini mempunyai dua variabel yang sama derajatnya. Cir-ciri dari skala nominal, yaitu bersifat diskriminatif (membedakan), bersifat ekualitas dalan arti baha kategori-kategori dalam variabel itu sama, simetris dalam arti bahwa angka satu dapat ditukar demgan amgka 2, dam pengketegorianyya bersifat tuntas. Yang terakhir ini perlu dijelaskan baha setiap objek hanya bisa dimasukan kesalam salah satu kategori sehimgga tidak ada overlapping.
Skala Ordinal
Seperti halnya skala nominal, skala ordinal juga menunjukan perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori yang lainnya. Namun perbedaan itu bukan perbedaan yang setatar, tetapi perbedaan jenjang atau tingkat. Kalau variabelnya adalah status ekonomi, maka kategorinya-kategorinya adalah kelas ekonomi lemah, diberi angka 1, kelas ekonomi menengah, diberi angka 2, kelas ekonomi tinggi diberi angka 3. Angka 1, 2, 3 bukan membedakan hal yang sama tetapi perbedaan jenjang. Bahwa 1=2=3 adalah tidak benar, tetapi bahwa 1< 2 < 3, atau sebaliknya adalah benar. Oleh karena itu bilangan itu tidak bisa dijumlahkan atau dikurangkan.
Skala Interval
Skala pengukuran ini menunjukan perbedaan seperti pada skala nominal dan ordinal. Perbedaannya adalah bahwa interval antara 1 dan 2, antara 2 dan 3, dan seterisnya adalah sama. Karena itu, terhadap bilangan-bilangan itu dapat dilakukan pekerjaan penambahn atau pengurangan. Ciri lain dari skala ini adalah titik nolnya yang berbeda, yaitu pada tahun kelahiran masing-masing. Karena sifatnya yang demikian ini maka angka-angka ini tidak multiper.
Skala Ratio
Skala ini sama dengan skala interval, kecuali bahwa titik nolnya yang sama dimana saja dan kapan saja. Karena itu sifatnya multiplier. Dilihat dari segi kehalusan pengukuran, skala ratio adalah yang paling tinggi, disusul dengan skala interval, kemudian skala ordinal, dan yang terakhir skala nominal. Oleh karena itu skala ratio dapat diubah pada skala ordinal, dan skala ordinal dapat diubah pada skala nominal. Akan tetapi pada umumnya, skala nominal tidak bisa dirubah pada skala interval, dan skala interval tidak bisa diubah pada skala ratio.

Ciri-Ciri Skala Pengukuran
Nominal : Mempunyai ciri yaitu klasifikasimya pembedaan secara tuntas, operasi matematisnya : A=B, B = A, contohnya Agama : katolik, kristen, islam, nomor kanar diasrama.
Ordinal : Mempunyai ciri klasifikasi, pembedaan, berjenjang ,interval tidak sama, tuntas, operasi matematisnya : Asimetri A>B>C, C<B<A, C-B#B-A, contohnya pendidikan, status sosial
Interval : Cirinya : pembedaan interval sama titik nol : arbiter, operasi matematisnya : N’ = CN = K, c : koefisien, k : Bilangan, contohnya : Skor:45, 74, 80.
Ratio : Cirinya : sama dengan interval + titik tolak mutlak, operasi matematisnya : N = cN, contohnya : Berat: 7 kg,8 kg.

PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

  1. A.    Dua Pilar ilmu Pengetahuan

Sebelumnya kita mengetahui kalau yang dinamakna penelitian itu adalah pada hakikatnya poses tanya jawab tentang peristiwa-peristiwa empiris tertentu, dan peristiwa itu ada yang termasuk gejala-gejala alam ada tentang gejal-gejal sosial. Tetapi anytara bertanya dan menjawab ada suatu proses yang menentukan mutu jawaban yang diperoleh. Proses dialkukan dengan 6 hal, yaitu: proses induksu, deduksi, sisitematis, terkendali, empiris dan kritis. Jika  seorang ilmuan berhadapan dengan masalah-masalah sosial dalam dunia nyata, maka masalah-masalah tersebut langsung berhubungan dengan ilmu yang dikuasainya dalm dunia abstrak, dan sebaliknya, jika ia menyusun suatu teori yang sifatnya abstrak, maka teori itu harus berhubungan dengan realita dimana teori itu dapat dipergunakan

Seorang ahli bernama Babie  menyatakan kalau” suatu teori itu harus disusun secara logis rasional, dan dipihak lain teori itu harus aktual”.

Menurut Babie, Ilmu pengetahuan itu mempunyai dua pilar, pilar yang pertama adalah logika atau rasionalitas, dan pilar yang kedua adalah pengamatan empiris, dimana antara logika dan pengamatan empiris itu saling berhubungan dan dilakukan dengan proses induksi-deduksi. 

Hubungan diantara kedua pilar itu dapat dijelaskan sebagai berikut: Apabila kita berhadapan dengan teori ilmu pengetahuan, maka pikiran kita berantisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Misalnya kita mempelajari pendidikan islam, maka tepri tersebut membawa kita pada sistem pendidikan islam yang dipergunakan, namun pikiran kita tidak terbatas pada definisi saja, atau pada kalimat-kalimat yang ada dalam buku teks. Dengan kata lain cara berfikir kita tidak verbal, tetapi praktis induktif.

Sebaliknya apabila kita menggunakan cara berfikir teoritis induktif, apabla kita berhadapan dengan peristiwa-peristiwa aktual, maka pikiran kita tidak berhenti pada masalah-masalah praktis, tetapi terarah pada teori-teoti yang kita pelajari. Hal ini menunjikan adanya hhubungan timbal balik antara teoridan peristiwa-peristiwa empiris. Jadi bisa kita simpulkan bahwa “Teori dengan cara berfikir induktifmengarahkan pada kenyataan empiris, dan kenyataan empiris dengan cara berfkir induktif mengarahkan kita pada teori.

B. Tahap-Tahap Dalam Proses Penelitian

Penelitian sebagai roses deduksi induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analitis dan terkendali. Dan prasyarat dalam mengadakan suatu penelitian haruslah bersifat sisitematis, dimana kita tidak boleh langsung melakukan tahap tertentusebelum melewati tahap sebelumnya. Konsep-konsep yang diuraikan merupakan sasaran penelitian diuraikan secara operasional atas indikator-indikator empiris. Dengan indikator-indikator itu konsep yang abstrak tersebut berhubungan dengan kenyataan empiris.

Karena penelitian selalu dikendalikan oleh hipotesis-hipotesisi sebagai jawaban sementar atas pertanyaan penelitian, maka ada 10 tahap yang harus dilalui secara sistematis dalam suatu penelitian empiris.

  1. Konseptualisasi masalah

Proses enelitian ilmiah diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian atau apa yang disebut dengan konseptualsassi masalah. Konseptualisasi masalah ni menentukan tahap-tahap berikitnya, dan jika terjadi kekeliruan pada tahan ini, maka seliruh tahap betikutnya akan mengalami kekeliruan. Ada dua hal yang berhubungan dengan ini , yaitu masalah atau substansi yang dipertanyakan, dan pertanyaan dasar serta cara menjawab  pertanyaan itu (metodologi).

  1. Tujuan dan Hipotesis

Tahap elanjutnya setelah konseptualisasi masalaha dalah hipotesis dan penelitian. Tujuan dan hipotesis inilah yang mengendalikan penelitian. Maka ketika mengajukan pertanyaan penenelitian, sebenarnya pada waktu itu juga sudah ada jawabannya dalam pikiran kita.Dan nanti kita akan menemukan hipotesisi penelitian, diman jawaban-jawaban tersebut masih diragukan, namun dapat dipakai jawaban sementara yang mengarahkan kita pada jawaban yang sebenarnya.

  1. Kerangka Dasar Penelitian

Masalah-masalah yang dihadapi oleh peneliti memerlikan suatu penjelasan yang disusun dalam kerangka teoritis tertentu, dan menggunakan konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tersebut. Konsep-konsep itu saling berhubungan membentuk beberapa proposisi. Hubngan yang terbentuk disusun dalm kerangka dasar, sehingga kita memperoleh penjelasan teirtis terhada masalah yang dukaji sebagai suatu penelitian. Kerangka dasar itu disebut juga kerangka hipotesis karena tercakuo dalam hipitesis-hipotesis yang telah disusun sebelumnya. Dangan dirumuskannya secara operasional kekonsep-konsep dalam kerangka hipotesis itu, mska diperoleh penjelasan tentang data apa yang akan dikumpulkan untuk membuktikan hopotesis penelitian.

  1. Penarika Sampel

Untuk menguji hopotesis itu diperlukan pengumumpulan data yang dibutuhkan, maka harus jelas diman adata tersebut dukumpulkan dan strategu apa yang digunkan untuk mrngumpulkannya. Tahapan ini disebut perumusan populasi dan sampel penelitian. Hasil dari proses penarikan sampel ini adalah suatu responden sebagai sampel dari populasi penelitian.

  1. Kontruksi Instrumen

Dalam hal pengumpulan data dari sampel yang telah ditetakan itu, hal ni berhubungan dengan pengumpulan data dan alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkannya. Tahapan ini disebut pengumpulan data dan kontruksi instrumen . Instrumen penelitiannya disusun sesuai dengan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data.

  1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Untuk itu diperlikan pengumpulan data yang sesuai dengan setiap variabel, supaya diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Pengumpulam data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian.

  1. Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan itu masih berupa data mentah, sehingga perlu diolah supaya dapat dianalisis. Pengolahan ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu editing(penyuntngan),coding (pemberian kode), dan menyusunnya dalam master sheet (tabel induk).

  1. Analisis Pendahuluan

Analisis data penelitian itu ada dua tahap, yaitu analisis pendahukluandan analisis lanjut. Dan untuk menguji hioitesis, maka data yang telah diolah itu akan dianalisis dengan cara tertentu. Analisis pendahukuan biasanya bersifatdeskriptif dan terbatas pada data sampel untuk mendeskripsikan setiap variabel pada sampel penelitian, dan untuk menentukan alat analisis yang akan dipakai pada analisis selanjutnya.

  1. Analisis Lanjt

Setelah analisis pendahuluan adalah analisis inferensial yang diarahkan pada pengujian hipotesis. Alat-alay analisis yang dipakai untuk ini disesuaikan dengan hipotesisoperasional yang telah dirumuskan sebelumnya. Kalau hipotesisiyang diuji hanya mencakup satu variabel, maka dipergunakan Uni Variate Analisis. Kalau hopotesi mencakup dua variabel, maka dipergunakan Bivariate Analisis. Dan kalau mencakup tiga variabel, maka dipergunakan Multivariate Analisis.

  1. Intrepertasi

Hasil analisis ini kemudian diintrepertasikan melalui proses pembahasn. Tahap ini disebut analisis dan intrepertasinhasilpenelitian. Tahap terakhir adalah melaporkan hasil enelitian itu dalam bentuk tertulis.

Kesepuluh tahap itu digolongkan dalam dua tingkat, yaitu tngkat pertama berjalan dalam proses deduksi yang bercirikan diferensiasi. Disebut Deduksi karena proses itu berjaln dari teori-teori dan konsep-konsep yang abstrak menuju pad aevidensi-evidensi empiris yang sangat konkret. Proses ini mempunyai ciri Diferensiasi.

Dikatakan demikian karena satu konsep yang akan diteliti membutuhkan banyak data, sehngga ptrosesnya berjalan dari satu ke banyak. Pribahasa Cina Kuno mengatakan  “satu fakta”seribu gambar, serubu kata”dapayt juga diubah menjadi satu kata, seribu data.

Tingkay kedua berjalan dalam proses induksi yang bercirikan integrasi. Dikatakan induksi karena proses itu dimulai dari kenyataan-kenyataan konkret dalam seperangkat data sampai pada konsep-konsep yang absrak melalui penyederhanaam-penyederhanaan. Ciari integrasi tampak pada proses perangkuman data, dari banyak menjadi sederhana , menjadi konsep yang bermakna.

C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi

Setelah Proses diatas , mak tidak dapat  dibedakan menjadi tahap yang bersifat hasil temuan dengan tahap yang bersifat cara atau proses menemukan. Seorang ahli bernam Wallace membedakan kedua jenis sifat tersebut dalam dua macam komponen. Hasil temuan itu disebut kompoem onformasi, dan cara menemukannya disebut komponen metodologi. Dengan pembedaan tersebut maka keseluruhan proses penelitian terdiri atas 5 komponen informasi dan 6 komponen metodologi.

Kelima komponen informasi dalam tahap-tahap penelitian sebagaimana dikatakan diatas adalah:

  1. Teori
  2. Hipotesis
  3. Pengamatan
  4. Generalisasi empiris
  5. Penerimaan atau penolakan hipotesis.

Informasi-informasi itu ditemukan melalui 6 komponen metodologi, yaitu:

  1. Deduksi logis
  2. Interpretasi hipotesis, instrumental, skala pengukuran, sampling
  3. Penyederhanaan (dengan statistik,estimasi parameter)
  4. Pembentukan teori dan proposisi
  5.  Pengujian ipotesos
  6. Inferensial logis

 

Kalau kita memulai dengan mempermasalahkan teori, maka dari teori tersebut kita menurunkan hipotesis. Cara menurunkan hipotesis dari teori itu dilakukan dengan deduksi logis. Selanjutnya, untuk membuktikan hipotesis dibutuhkan data sebagai hasil pengamatan. Informasi ini diperoleh dengab cara melakukan interpretasi terhadap hipotesis, menyusun instrumen, menarik sampel, dan menentukan pengukurab variabel. Berdasarka data hasil pengamatan ini ingn diketahui apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak, dan dipihaklainingin diperoleh ingin diperoleh informasi berupa generalisasi empiris. Penerimaan atau penolakan hipotesis berdasarkan data pengamatan itu dilkukn dengan analisis uji hipotesis, dan generalisassi empiris diperoleh melalui penyederhanaan data secara statistik, antara lain dengan dengan tekhnik estimasi parameter. Dari hasil uji hipotesis kemudian disimpulkan sjauh mana teori yang diermasalahkan itu dapat diterima. Proses ini dilakukan dengan cara inferensial  atau induksi logios. Dipihak lain, dari generalisasi empiris dibentuk konsep atau proposisi dengan cara pembentukn konsep, proposisi, da teori.

 

Posted on: Februari 23, 2010

HAKIKAT ILMU DAN PENELITIAN

 

  1. A.       Pengetahuan

Berbicara masalah pengetahuan kita bisa pahami suatu pernyataan dalam filsafat yang berbunyi :

Ada orang yang tau di tahunya

Ada orang yang tahu di tidak tahunya

Ada orang yang tidak tahu di tahunya

       Masalah pengetahuan ini berkisar pada tiga hal, yaitu apa pengetahuan (ontologis), bagaimana mengetahui (epistimologi), dan untuk apa pengetahuan itu (aksiologi). Ketiga hal ini tidak bisa lepas dari bagainama mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu, dan sebaliknya.

Pengetahuan itu pada hakikatmya meliputi semua yang diketahui oleh seseorang tentang objek tertentu, pengetahuan itu mencakup knowledge maupun science, seni, dan teknologi.

Masalah pengetahuan bukan hanya mengetahui, tetapi mengetahui yang benar, dengan kata lain, seberapa jauh kita menerimanya sebagai suatu kebenaran, karena kebenaran adalah suatu pernyataan tanpa keraguan.

Pada dasarnya ada dua cara yang dipergunakan oleh manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yang pertama adalah dengan mendasarkan diri pada rasio, yang kedua adalah mendasarkan pada pengalaman, sedangkan yang kedua mengembangkan faham empirisme, bagi kaum empiris manusia tidak didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, tetapi melalui pengalaman konkrit.

Selain dari rasio dan pengalaman, pengetahuan yang benar dapat pula diperoleh melalui intuisi dan wahyu. Namun intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diramalkan, sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur. Disamping itu kebenaran itu sendiri tidak mutlak, berbeda-beda menurut waktu, tempat dan orang, dan ini menunjukan bahwa kebenaran itu bersifat tentatif.

Pernyataan tentang apa yang dianggap sebagai suatu kebenaran itu dilakukan melalui suatu proses penalaran. Proses ini bertitik tolak pada postulat-postulat tertentu tentang apa yang diterima sebagai pembuktian kebenaran tanpa pembuktian. Premis mayor adalah suatu pernyataan yang berlaku umum dengan kebenaran yang tidak perlu dibuktikan. Contohnya :

Premis mayor : Manusia mati

Premis Minor : Sulis adalah manusia

Kesimpulan    : Sulis mati

Pernyataan Sulis mati adalah benar, jika kita dapat membuktikan bahwa Dulis agalah manusia dan manusia itu  mati adalah benar.

  1. Teori, Proposisi, dan Konsep
  2. Teori

Ilmu pengetahuan terdiri dari seperangkat teori galam bidang tertentu. Dengan teori, itu kita dapat membaca kenyataan empiris yang terjadi disekitar kita. Fakta empiris yang sama dapat diceritakan oleh beberapa orang dengan cara  yang berbeda-neda sesuai dengan kaca mata teori yang mereka pergunakan. Tanpa teiri kita menjadi buta tentabg peristiwa-peristia empiris yang terjadi di sekitar kita. Sebaliknya, tanpa diperhadapkan dengan peristia-peristia empiris, suatu teori akan menjadi lumpuh.  Karena teori sangat penting dalam kaitannya dengan penelitian empiris, maka perlu kita mempunyai pemahaman yang sama tentang teori. Teori menurut Nan Lin adalah :

A set of interelated proposisitions, some of which can be empirically test.

Teori pertama-tama terdiri atas seperangkat proposisi, yaitu pernyataan tentang hubungan antara dua konsep atau lebih. Apabila seseorang diberi stimulus, maka ia akan memnerikan reaksi dengan cara tertentu. Stimulus dan reaksi adalah dua konsep yang dihubungkan menjadi satu preposisi.

Suatu teori terdiri atas seperangkat  preposisi yang saling berkaitan. Keterkaitan tersebut tersusun dalam suatu sistem yang memungkinkan kita mempunyai pengetahuan yang sistematis tentang suatu peristiwa. Ciri ketiga dari teori adalah beberapa diantaranya dapat diuji secara empiris. Pengakuan empiris inilah yang menjadi metedologi penelitian.

Teori yang tersusun secara sistematis mempunyai beberapa fungsi tertentu, diantaranya: fungsi eksplanasi adalah fungsi menjelaskan yaitu suatu pernyataan tentang hubungan tertentu untuk menggambarkan sejumlah kegiatan (fenomena) yang teramati. Fungsi kedua: fungsi prediktif atau fungsi peramalan atau prakiraan, prediksi ini bersifat probabilitis, sehingga dapat diterapkan dalam tiga jenis situasi. Fungsi ketiga dari suatu teori kontrol adalah fungsi kontrol. Teori tidak hanya menjelaskan dan memperkirakan, tetapi juga mampu mengendalikan peristiwa supaya tidak mengarah pada hal-hal yang negatif.

  1. Proposisi

Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan antara dua konsep atau lebih. Hubungan diantara dua konsep itu bermacam-macam,ada hubungan kausal (sebab akibat), ada hubungan korelasional (positif dan negatif), ada hubungan fungsional. Proposisi merupakan bahan untuk membuat teori, dan membutuhkan konsep untuk bahan bakunya. Suatu proposisi mempunyai makna teoritis jika ia dibentuk dari konsep kunci suatu disiplin ilmu pengetahuan. Setiap disiplin ilmu memiliki konsep kunci.

  1. Konsep

Konsep merupakan bahan baku ilmu pengetahuan. Dari konsep dibentuk proposisi, dan proposisi itu membentuk teori. Konsep adalah istilah atau simbol yang memunjuk pada suatu pengertian tertentu. Sekolah menunjukan istilah, istilah ini mengingatkan  pada suatu yang konkret seperti gedung, guru, dll. Konsep adalah sesuatu yang abatrak tetapi menunjik pada suatu yang konkret. Abstraksi suetu konsep itu bertingkat-timgkat, ada yang abstraksinya sangat tinggi, dan ada yang rendah. Hubungan antara konsep, proposisi, dan teori ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Teori

Fungsi : Eksplanatif

Prediktif

Proposisi

Kontrol

Konsep

 

  1. Berbagai Cara Memperoleh Pengetahuan

Penelitian atau riset pada hakikatnya bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang dianggap benar melalui proses bertanya dan menjawab.Penelitian tidak akan berhenti sehingga ilnu pengetahuan berkembang terus. Tanpa penelitian, ilnu pengetahuan tidak akan berkembang, dilihat pada gambar berikut:

!
?
?
!

Penelitian Bertolak dari Pertanyaan

                                                     Penelitian

Kita memperoleh pengetahuan dengan dua cara :

  1. Agreement reality (Melalui orang lain). Orang lain memberitahu kita secara langsung maupun dengan media, dan apa yang diberitahukan kepada kita diterima sebagai sesuatu yang kita anggap benar. Di keluarga kita memeperoleh pengetahuan dari orang tua, di sekolah kita memperoleh dari guru dam bacaan,dll.
  2. Experiental reality (Pengalaman diri sendiri secara langsung). Orang mengatakan pengalaman adalah guru yang paling baik. Pengetahuan dari pengalaman diperoleh dengan mempelajari pengalaman kita sendiri.

Metodologi p[enelitian tidak hanya berhubungan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan, karena itu metodologi pengetahuan termasuk dalam apa yang dimaksud epistemologi.

Epistemologi adalah ilmu mengetahui, sedangkan metodologi dapat dikatakan sebagai ilmu menemukan. Sehubungan dengan itu, metodologi penelitian perlu melihat apa yang ingin sitemukan dalam kerangka teoritis tertentu, agar apa yang ditemukan itu mendapat maknanya. Ada beberapa cara yang dipergunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan, antara lain:

  1. Metode Keteguhan (tenacity). Dengan metode ini orang akan menerima suatu kebenaran karena merasa yakin akan kebenarannya. Unsur keyakinan bereran dalam metode ini.
  2. Metode Otoritas. Sesuatu diterima sebagai kebenaran karena sumbernya mempunya otoritas untuk itu. Pernyataan dari seirang tokoh tertentu juga niterina sebagai kebenaran karena ia mempunyai keahlian di bidang itu.
  3. Metode Apriori atau intuisi. Sesuatu diterima sebagai kebenaran semata-mata berdasarkan intuisi
  4. Metode Tradisi. Suatu kebenaran diterima berdasarkan tradisi yang berlaku di dalam lingkungannya.
  5. Metode Trial and Error. Metode ini diperoleh melalui pegalaman langsung. Sesuatu dianggap benar diperoleh sebagai suatu hasil dari serangkaian percobaan sisitematis.
  6. Metode metafisik. Suatu yang dianggap benar diperoleh secara metafisik. Pengetahuan yang diperoleh dari ajaran agama atau kepercayaan atau mistik termasuk dalam golongan ini.
  7. Metode ilmiah, Metode ini dilakukan melalui proses deduksi dan induksi. Moh. Nazir menyebutkan 5 kriteria pada metode ini, yaitu berdasarkan fakta, bebas dari prasangka, menggunakan prinsip analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran obyektif, dan menggunakan tekhnik kuantitatif.

Tanpa mengabaika cara-cara yang lain, perhatian kita ternudat pada metode ilmiah ini, yang sering dikacaukan dengan metode akal sehat.

  1. Metode Ilmiah dan Metode Akal Sehat

Metode penelitian ilmiah serimg dibedakan sengan metode akal sehat terutama dalam proses penelitiannya. Proses penelitian ilmiah bersifat empiris, terkendali, analitis, dan sistematis. Ciri-ciri ini secara terpadu tidak terdapat pada metode akal sehat. Karlinger membedakan metode ilmiah dengan metode akal sehat dalam lima hal, yaitu :

  1. Pendekatan dengan metode akal sehat menggunakan teori dan konsep secara longgar, sedangkan pendekatan ilmiah menggunakan teori dan konsep secara ketat dan terkendali. Pada pendekatan akal sehat, penjelasan tentang gejala tertentu derimg diterima begitu saja tanpa mempertanyakannya lebih mendalam.
  2. Dalam pendekatan ilmiah, teori hipotesis dieju secara siistematis dan empiris. Pada pendekatan akal sehat, teori dan hipotesis diuji juga, tetapi secara selektif, dan tidak obyektif. Pembenaran teori dan pengujian hipotesis harus dilakukan secara sistematis dan empiris.
  3. Pada pendekatan ilmiah, pengamatan terhadap fenomena dilakukan secara terkendali. Cara seperti ini tidak terdapat pada pendekatan akal sehat. Umtuk mengetahui sebab-sebab dari suatu peristiwa melalui pendekatan ilmiah, dikunpulkan melalui seperangkay variabel yang diamgkay sebagai varisbel kontrol terhadap perintiwa yang dipelajari.
  4. Pada pendekatan akal sehat, dua fenomena yang muncul sering langsung dihubungkan dalam satu hubungan sebab akibat tanpa melalui penelitian yang dilakukan secara sistematis. Misalkan sejumlah anak menunjikan prestasi belajar tinggi. Dipihak lain diketahui  pula bahwa anak-anak itu pada umumnya berasal dari golongan ekonomi kuat. Dari kedua fenomena itu ditarik kesimpulan bahwa keadaan okonomi kuat menyebabkan prestasi belajar tinggi. Cara seperti imi tidak dapat diterima dalam pendekatan ilmiah.
  5. Pendekatan ilmiah selalu dersifat empiris, dalam arti harus ada penjelasan tentang hubungan diantara fenomena-fenomena, yang dilakukan berdasarkan kenyataan-kenyataanyang realistik dan mengesanpingkan senua hal yang bersifat metafisik.

 

  1. Pengertian Penelitian Ilmiah

Penelitian ilmiah sebagai proses bertanya menjawab memperhatikan peristiwa-peristiwa empiris dalam kerangka berfikir teoritis tertentu. Peristiwa-peristiwa empiris sebagai pusat perhatian dapat dibedakan atas gejala–gejala alam dan gejala-gejala sosial. Gejala-gejala alam adalah peristia yang berlangsung di alan bukan karena perbuatan manusia secara langsung. Fenomena sosial adalah peristia-[eristia yang berlangsung diantara dan oleh manusia. Penelitian terhadap gejala-gejala sepertyi itu disebut penelitian sosial. Nan Lin menjeladkan penelitian sosial itu  sebagai berikut :

Social research is conducted, fgirst of all, to detecc regularities in various social relations……………

 Sasaran penelitian sosial adalah gejala-gejala sosial yang terdapat didalam berbagai relasi sosial terhadap gejala-gejala itu akan diteliti apakah ada keteraturan di dalamnya. Dengan kata lain apakah gejala-gejala tersenut bekerja menurut aturan atau hukum tertentu

Oleh karena itu, tujuan penelitian yang pertama menurut Nan Lin adalah untuk menemukan hukum atau keteraturan yang bekerja dalam gejala-gejala itu, dan tujuan yang kedua adalah untuk memecahkan masalah yang terdapat dalam relasi-relasi sosial. Suatu penelitian mempunyai dua macam signifikansi yaitu signifikansi teoritis karena ia dapat mengembangkan teori, dan signifikansi praktis karena ia dapat memberi bantuan dalam memecahkan masalah.

Pasa definisi Nan Lin tersebut tidak ditemukan penjelasan tentang bagaimana penelitian itu dilakukan secara ilmiah. Definisi tersebut bersifat finalis karena hanya menggambarkan tujuan dari penelitian itu sendiri.

Penelitian dilakukan untuk menguji hipotesis tersebut. Ada empat kriteria yang perlu dipenuhi dalam suatu penelitian ilmiah, yaitu:

  1. Penelitian dilakukan secara sistematis.

Prosesnya dilakukan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan tidak boleh melangkahi tahap sebelumnya untuk langsung pada tahap terakhir.

  1. Penelitian dilakukan secara terkendali.

Rumusan konsep dan hipotesis secara operasional merupakan kendali dalam mengarahkan seluruh kegiatan penelitian

  1. Penelitian dilakukan secara empiris.

Semua konsep yang tercakup dalam penelitian harus terhubung secara operasional dalam dunia nyata.

  1. Penelitian bersifat kritis.

Kritis disini berarti ada tolak ukur yang dipakai untuk menentukan sesuatu yang dapat diterima baik secara eksplisit maupun implisit. Tolak ukur dalam menetapkan hipotesis, dalam menentukan besarnya sampel penelitian,dalam memilih metode pengunpilan data, dalam memilih alat analis, dan sebagainya.

  1. Tipe Penelitian

Penelitian bertitik tolak pada pertanyaan bukan pernyataan. Jawaban dari suatu pertanyaan akan dipertanyakan lagi sehingga kita sampai pada pertanyaan yang paling mendasar yang menentukan tipe penelitian yang hendak dilaksanakan. Ada tiga pertanyaan dasar yang menentukan tipe penelitian secara empiris, yaitu: apa, bagaimana dan mengapa.

  1. Penelitian eksploratif

Penelitian ini berhubungan dengan pertanyaan dasar yang pertama yaitu apa. Pertanyaan ini ingin mengetahui suatu gejala atau peristiwa dengan melakukan penjajakan secara tidak sistematis terhadap gejala tersebut dalam arti tidak didasarkan pada hipotesis dan tidak ditarik sampel, tapi dilakukan dengan metode bola salju yaitu dengan bertanya kepada satu orang sampai menemukan informasi yang lebih lengkap tentang masalah yang diteliti.

  1. Penelitian deskriptif

Penelitian ini didasarkan pada pertanyaan dasar yang kedua yaitu bagaimana. Dengan demikian temuan-temuan dari penelitian deskriptif lebih luas dan lebih terperinci daripada penelitian eksploratif. Dikatakan lebih luas karena kita meneliti tidak hanya maslahnya sendiri tetapi variabel-variabel lain yang berhubungan dengan masalah itu. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik penelitian dilakukan dengan menarik sampel.

  1. Penelitian eksplanatif

Penelitian ini bertitik tolak pada pertanyaan dasar mengapa. Kita tidak puas bila hanya mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana terjadinya, tetapi ingin juga mengetahui mengapa peristiwa itu terjadi. Dengan kata lain kita ingin menjelaskan terjadinya suatu peristiwa. Penelitian seperti ini didasarkan pada hipotesis-hipotesis yang datanya dikumpulkan dengan metode sampling.

  1. Penelitian Eksperimen

Ketiga tipe penelitaian yang disebutkan diatas disebut juga ekspost fact research. Disebut demikian karena peristiwa yang diteliti sudah terjadi sehingga data-datanya dapat dilacak kembali melalui kuisioner atau dokumen-dokumen yang relevan. Tetapi ada juga penelitian yang datanya belum pernah ada, sehingga harus diciptakan terlebih dahulu. Tipe penelitian seperti ini sangat berguna untuk mengembangkan inovasi-inovasi yang berguna dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.

  1. Manfaat Penelitian

Pengertian penelitian menurut Nan Lin mengandung dua manfaat penelitian, yaitu:

  1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini bertitik tolak dari meragukan suatu teori tertentu yang disebut penelitian verifikatif. Keraguan ini muncul jika teori yang bersangkutan tidak bisa lagi menjelaskan peristiwa-peristiwa aktual yang dihadapi. Pengujian terhadap teori tersebut melalui penelitian empiris dan hasilnya bisa menolak, mengukuhkan atau merevisi teori yang bersangkutan.

Demikianlah teori nerkenbang terus melalui penelitian, dan demgam demikian ilmu pemgetahuan berkenbang terud tanpa batas. Itulah sebabnya penelitian ditenpatkan sebagai darma kedua pada tridarma kperguruan tinggi debagai lembaga yang mengelola ilmu.

  1. Manfaat Praktis

Penelitian bermanfaat untuk memecahkan masalah-masalah praktis mengubah cara kerja supaya lebih efisien dan mengubah kurikulum supaya lebih berdaya guna bagi pembangunan sumber daya manusia yang merupakan contoh-contoh yang dibantu pemecahannya melalui penelitian ilmiah. Hampir semua lembaga yang ada di dalam masyarakat, baik lembaga pemerintahan maupun sasta, menyadari manfaat ini dengan menempatkan penelitian dan pengembangan sebagai bagian integral dalam organisasi mereka.

Kedua manfaat penelitian tersebut merupakan syarat dilakukannya suatu penelitian sebagaimana dinyatakan dalam rancangan (desain) penelitian.

tes

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.