Iim melina

Archive for Maret 2010

BAB III
KONSEPTUALISASI MASALAH

A.Perumusan Masalah
Telah kita ketahui bahwa suatu konsep serada dalam bidang logika teoritis), sedangkan gejala berada dalam dunia empiris (faktual). Konsaep dersifat abstrak dan dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal yang khusus.memberikan konsep pada gejala itulah disebut konseptualisasi.
Konseptualisasi adalah proses pembentukan konsep dengan dertitik tolak pada gejala-gejala pengamatan. Proses ini berjalan secara induktif, dengan mengamati sejumlah gejala secara individual, kemudian merumuskannya dalam bentuk konsep. Konsep dersifat abstrak, sedangkan gejala bersifat konkret.
Seorang ahli bernama Babbie mengatakan konsep sebagai berikut :
“The process through hich we specify precisely what e man hen e use particukar terms” (proses dengan bagaimana kita memberi nama yang khusus secara tepat menggambarkan apa yang kita maksudkan).
Konseptualisasi diawali dengan mengungkapkan permasalahan penelitian , latar belakangnya, perumusannya, dan signifikansinya. Masalah yang jadi bahan penelitian itu merupakan kesenjangan yang ada diantara kenyataan dan harapan perlu dirumuskan secara eksplisit. Masalah tersebut dapat ditangkap dari keluhan-keluhan yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan, Gejala-gejala masalah ini diungkapkan secara jelas, untuk kemudian konsepnya dirumuskan secara operasional. Dan akhirnya masalah itu perlu diteliti secara akademis dan dari segi praktis, dari segi akademis, suatu penelitian bisa mengukuhkan teori yang ada, sedangkan dari segi praktis berhubungan dengan pentingnya penelitian itu dalam pengenbangan program atau pekerjaan tertentu.
Konseptualisasi masalah tidak hanya merumuskan masalah, tetapi juga mengungkapkan cara-cara tentang bagaimana masalah tersebut akan diteliti. Dengan demikian terdapat dua masalah pokok yang akan dijelaskan dalam konseptualisasi penelitian, yaitu penjelsan tentang substansi yang diteliti, dan penjelasan tentang khusus dalam perencanaan penelitian.
seperti yang kita ketahui peristiwia bisa disebut sebagai masalah apabila terdapat kesenjangan antara apa yang ada dengan apa yang diharapkan. Suatu masalah dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek empiris dan aspek logis atau rasional. Dilihat dari apa yang diharapkan itu masalah dapat dikelonpokan kedalam 3 kategori, yaitu:

Masalah Filosofis
Suatu masalah dikatakan filosofis jika gejala-gejala empirisnya tidak sesuai dengan pandangan hidup yang ada dalam masyarakat. Bisa kita ambil contoh yaitu gejala-gejala seks sebelum nikah dikalangan remaja termasuk dalam kategori ini, karena nilai-nilai yang berlaku dikalangan remaja itu tidak sesuai dengan norma-norma keagamaan yang dianut oleh masyrakat.
Masalah Kebijakan
Masalah yang tergolong dalam masalah kebijakan adalah prilaku-prilaku atau kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sipembuat kebijakan, kualitas pendidikan yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan, adalah contoh-contoh yang termasuk dalam kategori ini.
Masalah Ilmiah
Masalah yang tergolong dalam masalah ilmiah adalah kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan teori ilmu pengetahuan. Salah satu teori dalam pendidikan yang dikenal dengan teori hukuman mengatakan bahwa hukuman yang diberikan pada anak akan mengubah prilakunya kearah positif, Tetapi dalam kenyataannya, anak-anak diberi hukuman justru semakin mengarah pada hal-hal yang negatif.
Masalah sosial menampakan diri pada conflict issue yang dapat ditangkap dari peristiwa-peristiwa yang ada dalam masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan membantu kita mengetahui pokok permasalahan tersebut. Issue-issue tersebut dapat ditangkap melalui pengamatan langsung, atau dari surat kabar, media masa lainnya. Bertitik tolak dari isue tersebut kita bisa merumuskan masalah yang menjadi pokok permasalahan kita. Dari seperangkat proposisi yang ada dalam teori tersebut kita memilih yang sesuai dengan issue dan cukup menarik minat itu.
Untuk merumuskan permasalahan dengan cara seperti itu , perlu diperhatikan dua pertanyaan pokok yang membentu memperjelas masalah. Yang pertama pertanyaan mengapa masalah itu penting, untuk pertanyaan ini dijawab dengan mengungkap latar belakang masalahnya. Sumber-simber bacaam yang relevan bisa membantu kita menjelaskan latar belakangnya
Pertanyaan yang kedua adalah apa masalahnya. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diadakan penjajakan disekitar lokasi penelitian, dan kita mengungkapkan gejala-gejala khusus dari setiap individu yang bermsalah. Dengan metode induksi akhirnya kita merumuskan konsep yang merupakan penelitian kita.

B.Variabel
Sebelumnya telah kita sebutkan bahwa konsep itu bersifat abstrak, tetapi menunjuk pada objek-objek yang konkret, Objek yang konkret itu bersifat individual, yang berbeda satu dengan yang lain dan proses pemberian konsep pada gejhala-gejala yang dipermasalahkan itu disebut Konseptualisasi. Sifat dari objek-objek itu adalah

Mempunyai cirti yang sama, yang membuat mereka mirip antara yang satu dengan yang lain, sehingga semuanya dapat ditampung dalam satu definisi
Setiap objek berbeda, masing-masing mempunyai ciri tersendiri yang membedakannya dengan objek yang lain, perbedaan-perbedaan itu yang membuat objek-objek itu bervariasi, karena itu disebut variabel
Perbedaan-perbedaan pada setiap objek terletak pada ukuran masing-masing, baik ukuran yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Karena ukuran yang berbeda-beda itulah maka konsep itu disebut sebagai variabel.
Suatu konsep disebut variabel jika ia menampakan variasi pada objek-objek yang ditunjuknya. Jadi konsep bukan variabel jika tidak tampak variasi pada objek-objek itu.
Diantara konsep konsep yang abstrak dan objek yang individual yang konkret terdapat suatu penghubung yang menunjukan objek-objek yang dapat dimasukan kedalam konsep sebagai indikator empiris. Indikator empiris ini sifatnay dapat diamati. Suatu indikator empiris nelum tentu dapat menunjukan seluruh makan yang terkandung dalam konsep tertentu.
Demgan indikator empirid itu kita merumuskan variabel secara operasional. Definisi operasional dirumuskan sedemikian rupa sehungga ia berfungsi sebagi petunjuk untuk menemuka data yang tepat dalan dunia empiris
Definisi operasional suatu variabel tidak boleh dirunuskan dalan bentuk sinonim. Kalau definisi variabel kerajinan belajar dirunuskan ketekunan sisa dalam mempelajari bahan pelajaran, maka disisni terdapat istilah yang setara, yaitu kerajinan dan ketekunan, karena itu seharusnya ketekunan itu bukab kinep tetapi indikator, namun dalam definisi ini ketekunan adalah konsep, sama dengan kerajinan.
definisi operasional terhadap variabel atau konsep ini berbeda dengan definisi yang yang kita temukan dalam buku teks atau kamus . definisi dalam buku teks atau kamus itu disebut definisi konstetutif atau definisi nominal.
Variabel Dependent dan Variabel Independent
Variabel dependen disebut juga variabel tidak bebas jika nilai atau harganya ditentukan oleh satu atau beberapa variabel lain. Dalam hubungan ini variabel lain itu disebut variabel independen atau variabel bebas. Sebagai contoh, hubungan antara permintaan dan harga dalam hukum permintaan berbunyi : Jika harga suatu barang naik (atau turun), maka permintaan terhadap barang itu akan turun (atau naik).
Variabel kontinu dan Variabel Deskrit
Kedua jenis variabel ini berbeda dalan cara pengukurannya. Variabel kontinu dapat diukur dengan bilangan kontinu, seperti variabel berat, panjang, dan umur. Sedangkan variabel deskrit diukur dengan bilangan deskrit, seperti junlah orang yang dapat diukur dengan bilangan bulat.

C.Skala Pengukuran
Sifat dari indikator enpiris adalah dapat diukur dengan akala tertentu. Pengukuran itu paling sedikit untuk membedakan yang satu dengan yang lain. Untuk melakukan tugas pengukuran dibutuhkan alat, dan pada alat itu terdapat skala yang dapat diterapkan pada setiap objek yang akan diukur. Alat ukur yang dipakai haruslah konsisten sehingga hasilnya dapat dipercaya
Dengan syarat-syarat seperti inikah maka pengukuran adalah suatu proses pemberian angka pada setiap objek dalam skala tertentu. Mengukur suatu variabel dapat dilakukan pada salah datu dari 4 skala pengukuran, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala ratio.
Skala Nominal
Skala nominal ini dapat diterapkan pada setiap variabel karena skala ini berfungsi untuk membedakan. Setiap objek yang diukur adalah setatar, namun berbeda satu dengan yang lain. Tolak ukur yang dipakai untuk mengukurnya adalah indikator empiris dari variabel yang bersangkutan, variabel ini mempunyai dua variabel yang sama derajatnya. Cir-ciri dari skala nominal, yaitu bersifat diskriminatif (membedakan), bersifat ekualitas dalan arti baha kategori-kategori dalam variabel itu sama, simetris dalam arti bahwa angka satu dapat ditukar demgan amgka 2, dam pengketegorianyya bersifat tuntas. Yang terakhir ini perlu dijelaskan baha setiap objek hanya bisa dimasukan kesalam salah satu kategori sehimgga tidak ada overlapping.
Skala Ordinal
Seperti halnya skala nominal, skala ordinal juga menunjukan perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori yang lainnya. Namun perbedaan itu bukan perbedaan yang setatar, tetapi perbedaan jenjang atau tingkat. Kalau variabelnya adalah status ekonomi, maka kategorinya-kategorinya adalah kelas ekonomi lemah, diberi angka 1, kelas ekonomi menengah, diberi angka 2, kelas ekonomi tinggi diberi angka 3. Angka 1, 2, 3 bukan membedakan hal yang sama tetapi perbedaan jenjang. Bahwa 1=2=3 adalah tidak benar, tetapi bahwa 1< 2 < 3, atau sebaliknya adalah benar. Oleh karena itu bilangan itu tidak bisa dijumlahkan atau dikurangkan.
Skala Interval
Skala pengukuran ini menunjukan perbedaan seperti pada skala nominal dan ordinal. Perbedaannya adalah bahwa interval antara 1 dan 2, antara 2 dan 3, dan seterisnya adalah sama. Karena itu, terhadap bilangan-bilangan itu dapat dilakukan pekerjaan penambahn atau pengurangan. Ciri lain dari skala ini adalah titik nolnya yang berbeda, yaitu pada tahun kelahiran masing-masing. Karena sifatnya yang demikian ini maka angka-angka ini tidak multiper.
Skala Ratio
Skala ini sama dengan skala interval, kecuali bahwa titik nolnya yang sama dimana saja dan kapan saja. Karena itu sifatnya multiplier. Dilihat dari segi kehalusan pengukuran, skala ratio adalah yang paling tinggi, disusul dengan skala interval, kemudian skala ordinal, dan yang terakhir skala nominal. Oleh karena itu skala ratio dapat diubah pada skala ordinal, dan skala ordinal dapat diubah pada skala nominal. Akan tetapi pada umumnya, skala nominal tidak bisa dirubah pada skala interval, dan skala interval tidak bisa diubah pada skala ratio.

Ciri-Ciri Skala Pengukuran
Nominal : Mempunyai ciri yaitu klasifikasimya pembedaan secara tuntas, operasi matematisnya : A=B, B = A, contohnya Agama : katolik, kristen, islam, nomor kanar diasrama.
Ordinal : Mempunyai ciri klasifikasi, pembedaan, berjenjang ,interval tidak sama, tuntas, operasi matematisnya : Asimetri A>B>C, C<B<A, C-B#B-A, contohnya pendidikan, status sosial
Interval : Cirinya : pembedaan interval sama titik nol : arbiter, operasi matematisnya : N’ = CN = K, c : koefisien, k : Bilangan, contohnya : Skor:45, 74, 80.
Ratio : Cirinya : sama dengan interval + titik tolak mutlak, operasi matematisnya : N = cN, contohnya : Berat: 7 kg,8 kg.

Iklan

PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

  1. A.    Dua Pilar ilmu Pengetahuan

Sebelumnya kita mengetahui kalau yang dinamakna penelitian itu adalah pada hakikatnya poses tanya jawab tentang peristiwa-peristiwa empiris tertentu, dan peristiwa itu ada yang termasuk gejala-gejala alam ada tentang gejal-gejal sosial. Tetapi anytara bertanya dan menjawab ada suatu proses yang menentukan mutu jawaban yang diperoleh. Proses dialkukan dengan 6 hal, yaitu: proses induksu, deduksi, sisitematis, terkendali, empiris dan kritis. Jika  seorang ilmuan berhadapan dengan masalah-masalah sosial dalam dunia nyata, maka masalah-masalah tersebut langsung berhubungan dengan ilmu yang dikuasainya dalm dunia abstrak, dan sebaliknya, jika ia menyusun suatu teori yang sifatnya abstrak, maka teori itu harus berhubungan dengan realita dimana teori itu dapat dipergunakan

Seorang ahli bernama Babie  menyatakan kalau” suatu teori itu harus disusun secara logis rasional, dan dipihak lain teori itu harus aktual”.

Menurut Babie, Ilmu pengetahuan itu mempunyai dua pilar, pilar yang pertama adalah logika atau rasionalitas, dan pilar yang kedua adalah pengamatan empiris, dimana antara logika dan pengamatan empiris itu saling berhubungan dan dilakukan dengan proses induksi-deduksi. 

Hubungan diantara kedua pilar itu dapat dijelaskan sebagai berikut: Apabila kita berhadapan dengan teori ilmu pengetahuan, maka pikiran kita berantisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Misalnya kita mempelajari pendidikan islam, maka tepri tersebut membawa kita pada sistem pendidikan islam yang dipergunakan, namun pikiran kita tidak terbatas pada definisi saja, atau pada kalimat-kalimat yang ada dalam buku teks. Dengan kata lain cara berfikir kita tidak verbal, tetapi praktis induktif.

Sebaliknya apabila kita menggunakan cara berfikir teoritis induktif, apabla kita berhadapan dengan peristiwa-peristiwa aktual, maka pikiran kita tidak berhenti pada masalah-masalah praktis, tetapi terarah pada teori-teoti yang kita pelajari. Hal ini menunjikan adanya hhubungan timbal balik antara teoridan peristiwa-peristiwa empiris. Jadi bisa kita simpulkan bahwa “Teori dengan cara berfikir induktifmengarahkan pada kenyataan empiris, dan kenyataan empiris dengan cara berfkir induktif mengarahkan kita pada teori.

B. Tahap-Tahap Dalam Proses Penelitian

Penelitian sebagai roses deduksi induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analitis dan terkendali. Dan prasyarat dalam mengadakan suatu penelitian haruslah bersifat sisitematis, dimana kita tidak boleh langsung melakukan tahap tertentusebelum melewati tahap sebelumnya. Konsep-konsep yang diuraikan merupakan sasaran penelitian diuraikan secara operasional atas indikator-indikator empiris. Dengan indikator-indikator itu konsep yang abstrak tersebut berhubungan dengan kenyataan empiris.

Karena penelitian selalu dikendalikan oleh hipotesis-hipotesisi sebagai jawaban sementar atas pertanyaan penelitian, maka ada 10 tahap yang harus dilalui secara sistematis dalam suatu penelitian empiris.

  1. Konseptualisasi masalah

Proses enelitian ilmiah diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian atau apa yang disebut dengan konseptualsassi masalah. Konseptualisasi masalah ni menentukan tahap-tahap berikitnya, dan jika terjadi kekeliruan pada tahan ini, maka seliruh tahap betikutnya akan mengalami kekeliruan. Ada dua hal yang berhubungan dengan ini , yaitu masalah atau substansi yang dipertanyakan, dan pertanyaan dasar serta cara menjawab  pertanyaan itu (metodologi).

  1. Tujuan dan Hipotesis

Tahap elanjutnya setelah konseptualisasi masalaha dalah hipotesis dan penelitian. Tujuan dan hipotesis inilah yang mengendalikan penelitian. Maka ketika mengajukan pertanyaan penenelitian, sebenarnya pada waktu itu juga sudah ada jawabannya dalam pikiran kita.Dan nanti kita akan menemukan hipotesisi penelitian, diman jawaban-jawaban tersebut masih diragukan, namun dapat dipakai jawaban sementara yang mengarahkan kita pada jawaban yang sebenarnya.

  1. Kerangka Dasar Penelitian

Masalah-masalah yang dihadapi oleh peneliti memerlikan suatu penjelasan yang disusun dalam kerangka teoritis tertentu, dan menggunakan konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tersebut. Konsep-konsep itu saling berhubungan membentuk beberapa proposisi. Hubngan yang terbentuk disusun dalm kerangka dasar, sehingga kita memperoleh penjelasan teirtis terhada masalah yang dukaji sebagai suatu penelitian. Kerangka dasar itu disebut juga kerangka hipotesis karena tercakuo dalam hipitesis-hipotesis yang telah disusun sebelumnya. Dangan dirumuskannya secara operasional kekonsep-konsep dalam kerangka hipotesis itu, mska diperoleh penjelasan tentang data apa yang akan dikumpulkan untuk membuktikan hopotesis penelitian.

  1. Penarika Sampel

Untuk menguji hopotesis itu diperlukan pengumumpulan data yang dibutuhkan, maka harus jelas diman adata tersebut dukumpulkan dan strategu apa yang digunkan untuk mrngumpulkannya. Tahapan ini disebut perumusan populasi dan sampel penelitian. Hasil dari proses penarikan sampel ini adalah suatu responden sebagai sampel dari populasi penelitian.

  1. Kontruksi Instrumen

Dalam hal pengumpulan data dari sampel yang telah ditetakan itu, hal ni berhubungan dengan pengumpulan data dan alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkannya. Tahapan ini disebut pengumpulan data dan kontruksi instrumen . Instrumen penelitiannya disusun sesuai dengan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data.

  1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Untuk itu diperlikan pengumpulan data yang sesuai dengan setiap variabel, supaya diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Pengumpulam data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian.

  1. Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan itu masih berupa data mentah, sehingga perlu diolah supaya dapat dianalisis. Pengolahan ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu editing(penyuntngan),coding (pemberian kode), dan menyusunnya dalam master sheet (tabel induk).

  1. Analisis Pendahuluan

Analisis data penelitian itu ada dua tahap, yaitu analisis pendahukluandan analisis lanjut. Dan untuk menguji hioitesis, maka data yang telah diolah itu akan dianalisis dengan cara tertentu. Analisis pendahukuan biasanya bersifatdeskriptif dan terbatas pada data sampel untuk mendeskripsikan setiap variabel pada sampel penelitian, dan untuk menentukan alat analisis yang akan dipakai pada analisis selanjutnya.

  1. Analisis Lanjt

Setelah analisis pendahuluan adalah analisis inferensial yang diarahkan pada pengujian hipotesis. Alat-alay analisis yang dipakai untuk ini disesuaikan dengan hipotesisoperasional yang telah dirumuskan sebelumnya. Kalau hipotesisiyang diuji hanya mencakup satu variabel, maka dipergunakan Uni Variate Analisis. Kalau hopotesi mencakup dua variabel, maka dipergunakan Bivariate Analisis. Dan kalau mencakup tiga variabel, maka dipergunakan Multivariate Analisis.

  1. Intrepertasi

Hasil analisis ini kemudian diintrepertasikan melalui proses pembahasn. Tahap ini disebut analisis dan intrepertasinhasilpenelitian. Tahap terakhir adalah melaporkan hasil enelitian itu dalam bentuk tertulis.

Kesepuluh tahap itu digolongkan dalam dua tingkat, yaitu tngkat pertama berjalan dalam proses deduksi yang bercirikan diferensiasi. Disebut Deduksi karena proses itu berjaln dari teori-teori dan konsep-konsep yang abstrak menuju pad aevidensi-evidensi empiris yang sangat konkret. Proses ini mempunyai ciri Diferensiasi.

Dikatakan demikian karena satu konsep yang akan diteliti membutuhkan banyak data, sehngga ptrosesnya berjalan dari satu ke banyak. Pribahasa Cina Kuno mengatakan  “satu fakta”seribu gambar, serubu kata”dapayt juga diubah menjadi satu kata, seribu data.

Tingkay kedua berjalan dalam proses induksi yang bercirikan integrasi. Dikatakan induksi karena proses itu dimulai dari kenyataan-kenyataan konkret dalam seperangkat data sampai pada konsep-konsep yang absrak melalui penyederhanaam-penyederhanaan. Ciari integrasi tampak pada proses perangkuman data, dari banyak menjadi sederhana , menjadi konsep yang bermakna.

C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi

Setelah Proses diatas , mak tidak dapat  dibedakan menjadi tahap yang bersifat hasil temuan dengan tahap yang bersifat cara atau proses menemukan. Seorang ahli bernam Wallace membedakan kedua jenis sifat tersebut dalam dua macam komponen. Hasil temuan itu disebut kompoem onformasi, dan cara menemukannya disebut komponen metodologi. Dengan pembedaan tersebut maka keseluruhan proses penelitian terdiri atas 5 komponen informasi dan 6 komponen metodologi.

Kelima komponen informasi dalam tahap-tahap penelitian sebagaimana dikatakan diatas adalah:

  1. Teori
  2. Hipotesis
  3. Pengamatan
  4. Generalisasi empiris
  5. Penerimaan atau penolakan hipotesis.

Informasi-informasi itu ditemukan melalui 6 komponen metodologi, yaitu:

  1. Deduksi logis
  2. Interpretasi hipotesis, instrumental, skala pengukuran, sampling
  3. Penyederhanaan (dengan statistik,estimasi parameter)
  4. Pembentukan teori dan proposisi
  5.  Pengujian ipotesos
  6. Inferensial logis

 

Kalau kita memulai dengan mempermasalahkan teori, maka dari teori tersebut kita menurunkan hipotesis. Cara menurunkan hipotesis dari teori itu dilakukan dengan deduksi logis. Selanjutnya, untuk membuktikan hipotesis dibutuhkan data sebagai hasil pengamatan. Informasi ini diperoleh dengab cara melakukan interpretasi terhadap hipotesis, menyusun instrumen, menarik sampel, dan menentukan pengukurab variabel. Berdasarka data hasil pengamatan ini ingn diketahui apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak, dan dipihaklainingin diperoleh ingin diperoleh informasi berupa generalisasi empiris. Penerimaan atau penolakan hipotesis berdasarkan data pengamatan itu dilkukn dengan analisis uji hipotesis, dan generalisassi empiris diperoleh melalui penyederhanaan data secara statistik, antara lain dengan dengan tekhnik estimasi parameter. Dari hasil uji hipotesis kemudian disimpulkan sjauh mana teori yang diermasalahkan itu dapat diterima. Proses ini dilakukan dengan cara inferensial  atau induksi logios. Dipihak lain, dari generalisasi empiris dibentuk konsep atau proposisi dengan cara pembentukn konsep, proposisi, da teori.

 


Iklan

  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori